MEMBUAT KERANGKA KARANGAN
Ada 2 macam karangan yaitu karangan yang bersifat fiksi dan karangan yang bersifat nonfiksi. Fiksi lebih ke arah khayalan sedangkan nonfiksi lebih ke arah kejadian nyata (benar-benar terjadi). Penulisan karya tulis merupakan salah satu contoh karangan nonfiksi karena kejadiannya yang benar-benar dialami, atau dikerjakan. Sedangkan karangan fiksi contoh nyatanya adalah cerita pendek yang terkadang berupa cerita yang tidak mungkin terjadi.
Pada dasarnya, untuk menyusun karangan dibutuhkan langkah-langkah awal untuk membentuk kebiasaan teratur dan sistematis yang memudahkan kita dalam mengembangkan karangan.
Langkah-Langkah Menyusun Karangan.
1. Menentukan tema dan judul
Sebelum anda mau melangkah, pertama kali dipikirkan adalah mau kemana kita berjalan? lalu bila menulis, apa yang akan kita tulis? Tema adalah pokok persoalan, permasalahan, atau pokok pembicaraan yang mendasari suatu karangan. Sedangkan yang dimaksud dengan judul adalah kepala karangan. Kalau tema cakupannya lebih besar dan menyangkut pada persoalan yang diangkat sedangkan judul lebih pada penjelasan awal (penunjuk singkat) isi karangan yang akan ditulis.
Tema sangat terpengaruh terhadap wawasan penulis. Semakin banyak penulis membiasakan membaca buku, semakin banyak aktifitas menulis akan memperlancar penulis memperoleh tema.
Namun, bagi pemula perlu memperhatikan beberapa hal penting agar tema yang diangkat mudah dikembangkan. diantaranya :
a. Jangan mengambil tema yang bahasannya terlalu luas.
b. Pilih tema yang kita sukai dan kita yakini dapat kita kembangkan.
c. Pilih tema yang sumber atau bahan-bahannya dapat dengan mudah kita peroleh.
Terkadang memang dalam menentukan tema tidak selamanya selalu sesuai dengan syarat-syarat diatas. Contohnya saat lomba mengarang, tema sudah disediakan sebelumnya dan kita hanya bisa memakainya.Ketika tema sudah didapatkan, perlu diuraikan atau membahas tema menjadi suatu bentuk karangan yang terarah dan sistematis. Salah satu caranya dengan menentukan judul karangan. Judul yang baik adalah judul yang dapat menyiratkan isi keseluruhan karangan kita.
2. Mengumpulkan bahan
Setelah punya tujuan, dan mau melangkah, lalu apa bekal anda? Sebelum melanjutkan menulis, perlu ada bahan yang menjadi bekal dalam menunjukkan eksistensi tulisan. Bagaimana ide, dan inovasi dapat diperhatikan kalau tidak ada hal yang menjadi bahan ide tersebut muncul. Buat apa ide muluk-muluk kalau tidak diperlukan. Perlu ada dasar bekal dalam melanjutkan penulisan.
Untuk membiasakan, kumpulkanlah kliping-kliping masalah tertentu (biasanya yang menarik penulis) dalam berbagai bidang dengan rapi. Hal ini perlu dibiasakan calon penulis agar ketika dibutuhkan dalam tulisan, penulis dapat membuka kembali kliping yang tersimpan sesuai bidangnya. Banyak cara mengumpulkannya, masing-masing penulis mempunyai cara sesuai juga dengan tujuan tulisannya.
3. Menyeleksi bahan
Setelah ada bekal, dan mulai berjalan, tapi bekal mana yang akan dibawa? agar tidak terlalu bias dan abstrak, perlu dipilih bahan-bahan yang sesuai dengan tema pembahasan. Polanya melalui klarifikasi tingkat urgensi bahan yang telah dikumpulkan dengan teliti dan sistematis. berikut ini petunjuk-petunjuknya:
a. Catat hal penting semampunya.
b. Jadikan membaca sebagai kebutuhan.
c. .Banyak diskusi, dan mengikuti kegiatan-kegiatan ilmiah.
4. Membuat kerangka
Bekal ada, terpilih lagi, terus melangkah yang mana dulu? Perlu kita susun selangkah demi selangkah agar tujuan awal kita dalam menulis tidak hilang atau melebar ditengah jalan. Kerangka karangan menguraikan tiap topik atau masalah menjadi beberapa bahasan yang lebih fokus dan terukur.
Kerangka karangan belum tentu sama dengan daftar isi, atau uraian per bab. Kerangka ini merupakan catatan kecil yang sewaktu-waktu dapat berubah dengan tujuan untuk mencapai tahap yang sempurna.
Berikut fungsi kerangka karangan :
a .Memudahkan pengelolaan susunan karangan agar teratur dan sistematis
b. Memudahkan penulis dalam menguraikan setiap permasalahan.
c. Membantu menyeleksi materi yang penting maupun yang tidak penting
Tahapan dalam menyusun kerangka karangan :
a. Mencatat gagasan. Alat yang mudah digunakan adalah pohon pikiran (diagram yang menjelaskan gagasan2 yang timbul)
b. Mengatur urutan gagasan.
c. Memeriksa kembali yang telah diatur dalam bab dan subbab
d .Membuat kerangka yang terperinci dan lengkap
Merangka karangan yang baik adalah kerangka yang urut dan logis. Bila terdapat ide yang bersilangan, akan mempersulit proses pengembangan karangan. (karangan tidak mengalir)
5. Mengembangkan kerangka karangan
Proses pengembangan karangan tergantung sepenuhnya pada penguasaan kita terhadap materi yang hendak kita tulis. Jika benar-benar memahami materi dengan baik, permasalahan dapat diangkat dengan kreatif, mengalir dan nyata. Terbukti pula kekuatan bahan materi yang kita kumpulkan dalam menyediakan wawasan untuk mengembangkan karangan.
Pengembangan karangan juga jangan sampai menumpuk dengan pokok permasalahan yang lain. Untuk itu pengembangannya harus sistematis, dan terarah. Alur pengembangan juga harus disusun secara teliti dan cermat. Semakin sistematis, logis dan relevan pada tema yang ditentukan, semakin berbobot pula tulisan yang dihasilkan.
Rabu, 22 September 2010
JENIS JENIS PARAGRAF DAN CONTOHNYA
Pengertian Paragraf
Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam sebuah paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat topik, kalimat-kalimat penjelas, sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam satu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Paragraf dapat juga dikatakan sebagai sebuah karangan yang paling pendek (singkat). Dengan adanya paragraf, kita dapat membedakan di mana suatu gagasan mulai dan berakhir. Kita akan kepayahan membaca tulisan atau buku, kalau tidak ada paragraf, karena kita seolah-olah dicambuk untuk membaca terus menerus sampai selesai. Kitapun susah memusatkan pikiran pada satu gagasan ke gagasan lain. Dengan adanya paragraf kita dapat berhenti sebentar sehingga kita dapat memusatkan pikiran tentang gagasan yang terkandung dalam paragraf itu.
Jenis Paragraf
Beberapa penulis seperti Sabarti Akhadiah, Gorys Keraf, Soedjito, dan lain-lain membagi paragraf menjadi tiga jenis. Kriteria yang mereka gunakan adalah sifat dan tujuan paragraf tersebut. Berdasarkan hal tersebut, jenis paragraf dibedakan sebagai berikut.
1.Jenis Paragraf Berdasarkan Sifat dan Tujuannya
Keraf (1980:63-66) memberikan penjelasan tentang jenis paragraf berdasarkan sifat dan tujuannya sebagai berikut.
(a) Paragraf Pembuka
Tiap jenis karangan akan mempunyai paragraf yang membuka atau menghantar karangan itu, atau menghantar pokok pikiran dalam bagian karangan itu. Oleh Sebab itu sifat dari paragraf semacam itu harus menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup menyiapkan pikiran pembaca kepada apa yag sedang diuraikan. Paragraf yang pendek jauh lebih baik, karena paragraf-paragraf yang panjang hanya akan meimbulkan kebosanan pembaca.
(b) Paragraf Penghubung
Paragraf penghubung adalah semua paragraf yang terdapat di antara paragraf pembuka dan paragraf penutup.
Inti persoalan yang akan dikemukakan penulisan terdapat dalam paragraf-paragraf ini. Oleh Sebab itu dalam membentuk paragraf-paragraf penghubung harus diperhatikan agar hubungan antara satu paragraf dengan paragraf yang lainnya itu teratur dan disusun secara logis.
Sifat paragraf-paragraf penghubung bergantung pola dari jenis karangannya. Dalam karangan-karangan yang bersifat deskriptif, naratif, eksposisis, paragraf-paragraf itu harus disusun berdasarkan suatu perkembangan yang logis. Bila uraian itu mengandung pertentangan pendapat, maka beberapa paragraf disiapkan sebagai dasar atau landasan untuk kemudian melangkah kepada paragraf-paragraf yang menekankan pendapat pengarang.
(c) Paragraf Penutup
Paragraf penutup adalah paragraf yang dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian karangan. Dengan kata lain, paragraf ini mengandung kesimpulan pendapat dari apa yang telah diuraikan dalam paragraf-paragraf penghubung.
Apapun yang menjadi topik atau tema dari sebuah karangan haruslah tetap diperhatikan agar paragraf penutup tidak terlalu panjang, tetapi juga tidak berarti terlalu pendek. Hal yang paling esensial adalah bahwa paragraf itu harus merupakan suatu kesimpulan yang bulat atau betul-betul mengakhiri uraian itu serta dapat menimbulkan banyak kesan kepada pembacanya.
2.Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Kalimat Utama
Letak kalimat utama juga turut menentukan jenis paragraf. Penjenisan paragraf berdasarkan letak kalimat utama ini berpijak pada pendapat Sirai, dan kawan-kawan(1985:70-71) yang mengemukakan empat cara meletakkan kalimat utama dalam paragraf.
(a) Paragraf Deduktif
Paragraf dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat utama. Kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas yang berfungsi menjelaskan kalimat utama. Paragraf ini biasanya dikembangkan dengan metode berpikir deduktif, dari yang umum ke yang khusus.
Dengan cara menempatkan gagasan pokok pada awal paragraf, ini akan memungkinkan gagasan pokok tersebut mendapatkan penekanan yang wajar. Paragraf semacam ini biasa disebut dengan paragraf deduktif, yaitu kalimat utama terletak di awal paragraf.
(b) Paragraf Induktif
Paragraf ini dimulai dengan mengemukakan penjelasan-enjelasan atau perincian-perincian, kemudian ditutup dengan kalimat utama. Paragraf ini dikembangkan dengan metode berpikir induktif, dari hal-hal yang khusus ke hal yang umum.
(c) Paragraf Gabungan atau Campuran
Pada paragraf ini kalimat topik ditempatkan pada bagian awal dan akhir paragraf. Dalam hal ini kalimat terakhir berisi pengulangan dan penegasan kalimat pertama. Pengulangan ini dimaksudkan untuk lebih mempertegas ide pokok. Jadi pada dasarnya paragraf campuran ini tetap memiliki satu pikiran utama, bukan dua. Contoh paragraf campuran seperti dikemukakan oleh Keraf (1989:73):
Sifat kodrati bahasa yang lain yang perlu dicatat di sini ialah bahwasanya tiap bahasa mempunyai sistem. Ungkapan yang khusus pula, masing-masing lepas terpisah dan tidak bergantung dari yang lain. Sistem ungkapan tiap bahasa dan sistem makna tiap bahasa dibatasi oleh kerangka alam pikiran bangsa yang memiliki bahasa itu kerangka pikiran yang saya sebut di atas. Oleh karena itu janganlah kecewa apabila bahasa Indonesia tidak membedakan jamak dan tunggal, tidak mengenal kata dalam sistem kata kerjanya, gugus fonem juga tertentu polanya, dan sebagainya. Bahasa Inggris tidak mengenal “unggah-ungguh”. Bahasa Zulu tidak mempunyai kata yang berarti “lembu”, tetapi ada kata yang berarti “lembu putih”, “lembu merah”, dan sebagainya. Secara teknis para linguis mengatakan bahwa tiap bahasa mempunyai sistem fonologi, sistem gramatikal, serta pola semantik yang khusus.
(d) Paragraf Tanpa Kalimat Utama
Paragraf ini tidak mempunyai kalimat utama, berarti pikiran utama tersebar di seluruh kalimat yang membangun paragraf tersebut. Bentuk ini biasa digunakan dalam karangan berbentuk narasi atau deskripsi. Contoh paragraf tanpa kalimat utama:
Enam puluh tahun yang lalu, pagi-pagi tanggal 30 Juni 1908, suatu benda cerah tidak dikenal melayang menyusur lengkungan langit sambil meninggalkan jejak kehitam-hitaman dengan disaksikan oleh paling sedikit seribu orang di pelbagai dusun Siberi Tengah. Jam menunjukkan pukul 7 waktu setempat. Penduduk desa Vanovara melihat benda itu menjadi bola api membentuk cendawan membubung tinggi ke angkasa, disusul ledakan dahsyat yang menggelegar bagaikan guntur dan terdengar sampai lebih dari 1000 km jauhnya. (Intisari, Feb.1996 dalam Keraf, 1980:74)
Sukar sekali untuk mencari sebuah kalimat topik dalam paragraf di atas, karena seluruh paragraf bersifat deskriptif atau naratif. Tidak ada kalimat yang lebih penting dari yang lain. Semuanya sama penting, dan bersama-sama membentuk kesatuan dari paragraf tersebut.
Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam sebuah paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat topik, kalimat-kalimat penjelas, sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam satu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Paragraf dapat juga dikatakan sebagai sebuah karangan yang paling pendek (singkat). Dengan adanya paragraf, kita dapat membedakan di mana suatu gagasan mulai dan berakhir. Kita akan kepayahan membaca tulisan atau buku, kalau tidak ada paragraf, karena kita seolah-olah dicambuk untuk membaca terus menerus sampai selesai. Kitapun susah memusatkan pikiran pada satu gagasan ke gagasan lain. Dengan adanya paragraf kita dapat berhenti sebentar sehingga kita dapat memusatkan pikiran tentang gagasan yang terkandung dalam paragraf itu.
Jenis Paragraf
Beberapa penulis seperti Sabarti Akhadiah, Gorys Keraf, Soedjito, dan lain-lain membagi paragraf menjadi tiga jenis. Kriteria yang mereka gunakan adalah sifat dan tujuan paragraf tersebut. Berdasarkan hal tersebut, jenis paragraf dibedakan sebagai berikut.
1.Jenis Paragraf Berdasarkan Sifat dan Tujuannya
Keraf (1980:63-66) memberikan penjelasan tentang jenis paragraf berdasarkan sifat dan tujuannya sebagai berikut.
(a) Paragraf Pembuka
Tiap jenis karangan akan mempunyai paragraf yang membuka atau menghantar karangan itu, atau menghantar pokok pikiran dalam bagian karangan itu. Oleh Sebab itu sifat dari paragraf semacam itu harus menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup menyiapkan pikiran pembaca kepada apa yag sedang diuraikan. Paragraf yang pendek jauh lebih baik, karena paragraf-paragraf yang panjang hanya akan meimbulkan kebosanan pembaca.
(b) Paragraf Penghubung
Paragraf penghubung adalah semua paragraf yang terdapat di antara paragraf pembuka dan paragraf penutup.
Inti persoalan yang akan dikemukakan penulisan terdapat dalam paragraf-paragraf ini. Oleh Sebab itu dalam membentuk paragraf-paragraf penghubung harus diperhatikan agar hubungan antara satu paragraf dengan paragraf yang lainnya itu teratur dan disusun secara logis.
Sifat paragraf-paragraf penghubung bergantung pola dari jenis karangannya. Dalam karangan-karangan yang bersifat deskriptif, naratif, eksposisis, paragraf-paragraf itu harus disusun berdasarkan suatu perkembangan yang logis. Bila uraian itu mengandung pertentangan pendapat, maka beberapa paragraf disiapkan sebagai dasar atau landasan untuk kemudian melangkah kepada paragraf-paragraf yang menekankan pendapat pengarang.
(c) Paragraf Penutup
Paragraf penutup adalah paragraf yang dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian karangan. Dengan kata lain, paragraf ini mengandung kesimpulan pendapat dari apa yang telah diuraikan dalam paragraf-paragraf penghubung.
Apapun yang menjadi topik atau tema dari sebuah karangan haruslah tetap diperhatikan agar paragraf penutup tidak terlalu panjang, tetapi juga tidak berarti terlalu pendek. Hal yang paling esensial adalah bahwa paragraf itu harus merupakan suatu kesimpulan yang bulat atau betul-betul mengakhiri uraian itu serta dapat menimbulkan banyak kesan kepada pembacanya.
2.Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Kalimat Utama
Letak kalimat utama juga turut menentukan jenis paragraf. Penjenisan paragraf berdasarkan letak kalimat utama ini berpijak pada pendapat Sirai, dan kawan-kawan(1985:70-71) yang mengemukakan empat cara meletakkan kalimat utama dalam paragraf.
(a) Paragraf Deduktif
Paragraf dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat utama. Kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas yang berfungsi menjelaskan kalimat utama. Paragraf ini biasanya dikembangkan dengan metode berpikir deduktif, dari yang umum ke yang khusus.
Dengan cara menempatkan gagasan pokok pada awal paragraf, ini akan memungkinkan gagasan pokok tersebut mendapatkan penekanan yang wajar. Paragraf semacam ini biasa disebut dengan paragraf deduktif, yaitu kalimat utama terletak di awal paragraf.
(b) Paragraf Induktif
Paragraf ini dimulai dengan mengemukakan penjelasan-enjelasan atau perincian-perincian, kemudian ditutup dengan kalimat utama. Paragraf ini dikembangkan dengan metode berpikir induktif, dari hal-hal yang khusus ke hal yang umum.
(c) Paragraf Gabungan atau Campuran
Pada paragraf ini kalimat topik ditempatkan pada bagian awal dan akhir paragraf. Dalam hal ini kalimat terakhir berisi pengulangan dan penegasan kalimat pertama. Pengulangan ini dimaksudkan untuk lebih mempertegas ide pokok. Jadi pada dasarnya paragraf campuran ini tetap memiliki satu pikiran utama, bukan dua. Contoh paragraf campuran seperti dikemukakan oleh Keraf (1989:73):
Sifat kodrati bahasa yang lain yang perlu dicatat di sini ialah bahwasanya tiap bahasa mempunyai sistem. Ungkapan yang khusus pula, masing-masing lepas terpisah dan tidak bergantung dari yang lain. Sistem ungkapan tiap bahasa dan sistem makna tiap bahasa dibatasi oleh kerangka alam pikiran bangsa yang memiliki bahasa itu kerangka pikiran yang saya sebut di atas. Oleh karena itu janganlah kecewa apabila bahasa Indonesia tidak membedakan jamak dan tunggal, tidak mengenal kata dalam sistem kata kerjanya, gugus fonem juga tertentu polanya, dan sebagainya. Bahasa Inggris tidak mengenal “unggah-ungguh”. Bahasa Zulu tidak mempunyai kata yang berarti “lembu”, tetapi ada kata yang berarti “lembu putih”, “lembu merah”, dan sebagainya. Secara teknis para linguis mengatakan bahwa tiap bahasa mempunyai sistem fonologi, sistem gramatikal, serta pola semantik yang khusus.
(d) Paragraf Tanpa Kalimat Utama
Paragraf ini tidak mempunyai kalimat utama, berarti pikiran utama tersebar di seluruh kalimat yang membangun paragraf tersebut. Bentuk ini biasa digunakan dalam karangan berbentuk narasi atau deskripsi. Contoh paragraf tanpa kalimat utama:
Enam puluh tahun yang lalu, pagi-pagi tanggal 30 Juni 1908, suatu benda cerah tidak dikenal melayang menyusur lengkungan langit sambil meninggalkan jejak kehitam-hitaman dengan disaksikan oleh paling sedikit seribu orang di pelbagai dusun Siberi Tengah. Jam menunjukkan pukul 7 waktu setempat. Penduduk desa Vanovara melihat benda itu menjadi bola api membentuk cendawan membubung tinggi ke angkasa, disusul ledakan dahsyat yang menggelegar bagaikan guntur dan terdengar sampai lebih dari 1000 km jauhnya. (Intisari, Feb.1996 dalam Keraf, 1980:74)
Sukar sekali untuk mencari sebuah kalimat topik dalam paragraf di atas, karena seluruh paragraf bersifat deskriptif atau naratif. Tidak ada kalimat yang lebih penting dari yang lain. Semuanya sama penting, dan bersama-sama membentuk kesatuan dari paragraf tersebut.
Kamis, 19 Agustus 2010
Menulis Puisi Baru
B. Menulis Puisi Baru
Puisi baru tidak sama dengan puisi lama. Isi, bentuk, irama, dan bentuk persajakan dalam puisi lama sudah berubah dalam puisi baru.
Berdasarkan jumlah baris dalam kalimat pada setiap baitnya, puisi baru dibagi dalam beberapa bentuk puisi, yaitu:
1. DISTIKON
Distikon adalah sanjak 2 seuntai, biasanya bersajak sama.
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
2. TERZINA
Terzina adalah sanjak 3 seuntai.
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bahagia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane
3. QUATRAIN
Quatrain adalah sanjak 4 seuntai
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)
4. QUINT
Quint adalah sanjak 5 seuntai
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
5. SEXTET
Sextet adalah sanjak 6 seuntai.
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)
6. SEPTIMA
Septima adalah sanjak 7 seuntai.
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
7. STANZA ( OCTAV )
Octav adalah sanjak 8 seuntai
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
8. SONETA
Soneta adalah bentuk kesusasteraan Italia yang lahir sejak kira-kira pertengahan abad ke-13 di kota Florance.
CIRI – CIRI SONETA :
a. Terdiri atas 14 baris
b. Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
c. Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.
d. Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.
e. Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam
f. Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.
g. Peralihan dari octav ke sextet disebut volta
h. Penambahan baris pada soneta disebut koda.
i. Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata
j. Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)
B. FUNGSI SONETA
Pada masa lahirnya, Soneta dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan curahan hati.
Kini tidak terbatas pada curahan hati semata-mata, melainkan perasaan-perasaan yang lebih luas seperti :
1. Pernyataan rindu pada tanah air
2. Pergerakan kemajuan kebudayaan
3. Ilham sukma
4. Perasaan keagamaan
C. SONETA DIGEMARI PARA PUJANGGA BARU
Faktor-faktor Soneta digemari oleh para Pujangga Baru antara lain :
1. Adanya penyesuaian dengan bentuk pantun ; yakni Octav dalam Soneta yang bersifat obyektif itu hampir sejalan dengan sampiran pada pantun.
Sedangkan sextet Soneta yang sifatnya subyektif itu merupakan isi pantun.
2. Baris-baris Soneta yang berjumlah 14 buah itu cukup untuk menyatakan perasaan atau curahan hati penyairnya.
3. Soneta dapat dipakai untuk menyatakan beraneka ragam perasaan atau curahan hati penyairnya.
D. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
1. PERSAMAAN SONETA DENGAN PANTUN
Pantun dan Soneta sama-sama mempunyai sampiran atau pengantar dan isi
atau kesimpulan.
2. PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
a. Soneta puisi asli Italia, Pantun puisi asli Melayu
b. Satu bait Soneta terdiri terdiri dari 14 baris, satu bait Pantun terdiri atas 4
baris
c. Soneta berima bebas, pantun berima a-b-a-b
Puisi baru tidak sama dengan puisi lama. Isi, bentuk, irama, dan bentuk persajakan dalam puisi lama sudah berubah dalam puisi baru.
Berdasarkan jumlah baris dalam kalimat pada setiap baitnya, puisi baru dibagi dalam beberapa bentuk puisi, yaitu:
1. DISTIKON
Distikon adalah sanjak 2 seuntai, biasanya bersajak sama.
Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal
Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh
(Or. Mandank)
2. TERZINA
Terzina adalah sanjak 3 seuntai.
Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana
Dalam bahagia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari
Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane
3. QUATRAIN
Quatrain adalah sanjak 4 seuntai
Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)
4. QUINT
Quint adalah sanjak 5 seuntai
Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan
Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan
Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)
5. SEXTET
Sextet adalah sanjak 6 seuntai.
Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)
6. SEPTIMA
Septima adalah sanjak 7 seuntai.
Contoh :
Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)
7. STANZA ( OCTAV )
Octav adalah sanjak 8 seuntai
Contoh :
Awan
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)
8. SONETA
Soneta adalah bentuk kesusasteraan Italia yang lahir sejak kira-kira pertengahan abad ke-13 di kota Florance.
CIRI – CIRI SONETA :
a. Terdiri atas 14 baris
b. Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina
c. Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.
d. Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.
e. Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam
f. Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.
g. Peralihan dari octav ke sextet disebut volta
h. Penambahan baris pada soneta disebut koda.
i. Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata
j. Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d
Contoh :
Gembala
Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)
B. FUNGSI SONETA
Pada masa lahirnya, Soneta dipergunakan sebagai alat untuk menyatakan curahan hati.
Kini tidak terbatas pada curahan hati semata-mata, melainkan perasaan-perasaan yang lebih luas seperti :
1. Pernyataan rindu pada tanah air
2. Pergerakan kemajuan kebudayaan
3. Ilham sukma
4. Perasaan keagamaan
C. SONETA DIGEMARI PARA PUJANGGA BARU
Faktor-faktor Soneta digemari oleh para Pujangga Baru antara lain :
1. Adanya penyesuaian dengan bentuk pantun ; yakni Octav dalam Soneta yang bersifat obyektif itu hampir sejalan dengan sampiran pada pantun.
Sedangkan sextet Soneta yang sifatnya subyektif itu merupakan isi pantun.
2. Baris-baris Soneta yang berjumlah 14 buah itu cukup untuk menyatakan perasaan atau curahan hati penyairnya.
3. Soneta dapat dipakai untuk menyatakan beraneka ragam perasaan atau curahan hati penyairnya.
D. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
1. PERSAMAAN SONETA DENGAN PANTUN
Pantun dan Soneta sama-sama mempunyai sampiran atau pengantar dan isi
atau kesimpulan.
2. PERBEDAAN SONETA DENGAN PANTUN
a. Soneta puisi asli Italia, Pantun puisi asli Melayu
b. Satu bait Soneta terdiri terdiri dari 14 baris, satu bait Pantun terdiri atas 4
baris
c. Soneta berima bebas, pantun berima a-b-a-b
Sabtu, 24 Juli 2010
INI ADALAH BANGGAKU
Ini adalah banggaku
Kala sejumput kidung rindu-Mu mengalun
Dalam sunyi dingin pagi
Ini adalah banggaku
Kala serangkum kalam-Mu melantun
Dalam hening tiada mentari
Ini adalah banggaku
Di dingin pagi…
Di hening tiada mentari…
Jalan lurus menembus pucuk-pucuk waktu
Adalah jalan-Mu
Ini adalah banggaku
Bangga abdi-Mu
Kerinduan
Sekian masa dalam termangu
Merenung…
Di binar mentari senja
Hampir kelam
Dua nama masih tertoreh di pasir putih
Buih ombak enggan menyapu
Menyaksi dalam gemuruh
Membiarkan seribu asa yang menggelora
Menanti hingga mentari tiada lagi
Menanti hingga buih menepi
Bersama keangkuhan
Yang dipertontonkan
Di sini
Ada hati menanti
Dalam sepi diri
PADA BATAS HARAPAN
Senja memerah saga
Dalam hampa dan selaksa asa
Pada tumpukan rindu membatu
Dalam penantian semu
Pada pasir putih ku beradu
Di titik-titik sepi berpadu
Menyatu…
Bersatu…
Di senja pada rindu semu
Kembali kuketuk pintu hatimu
Selalu…
Sabtu, 17 Juli 2010
KATEGORI MAKNA LEKSIKAL
Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. Dengan kata lain, makna lesikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya.
Contoh:
kuda memiliki makna leksikal ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’
pinsil bermakna leksikal ‘sejenis alat tulis yang terbuat dari kayu dan arang’
Makna leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks apapun. Dengan kata lain, makna lesikal adalah makna yang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indra kita, atau makna apa adanya.
Contoh:
kuda memiliki makna leksikal ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’
pinsil bermakna leksikal ‘sejenis alat tulis yang terbuat dari kayu dan arang’
Rabu, 12 Mei 2010
Keagamaan
A. Mendengarkan
Kompetensi dasar
Menanggapi siaran atau informasi dari media elektronik
Tujuan pembelajaran
- Siswa dapat mencatat isi siaran atau informasi yang didengar dari media elektronik
- Siswa dapat menyampaikan secara lisan isi siaran atau informasi yang didengar secara runtut dan jelas
- Siswa dapat mengajukan tanggapan berdasarkan informasi yang didengar
Apakah kalian suka mendengarkan berita dari radio atau televisi ?
Berita apa saja yang kalian dengarkan ? Dengan memiliki kegemaran mendengarkan berita, kalian akan memeproleh banyak manfaat. Selain pengetahuan kalian bertambah, kemampuan daya simak kalian juga akan terlatih. Hal tersebut akan bermanfaat ketika kalian menyimak pelajaran di kelas, kalian akan mudah menangkap ilmu yang disampaikan oleh guru kalian. Marilah kita melakukan kegiatan menyimak (mendengarkan) untuk melatih daya simak dan menambah pengetahuan.
1. Simaklah rekaman berita ini !
Dukungan NU Terhadap Negara mutlak
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) K.H. Hasyim Muzadi menyatakan, dukungan ormas Islam terbesar Indonesia itu terhadap keberadaan negara mutlak dan absolut. "Dukungan NU terhadap negara mutlak tanpa reserve (tanpa syarat)," kata Hasyim Muzadi saat peresmian Kantor Pengurus Wilayah (PW) NU Sumut, di Medan, Rabu (6/1). Komitmen NU terhadap negara itu sudah diterapkan sejak lama dan dikukuhkan muktamar tahun 1983. Melalui komitmen itu, NU dan seluruh kadernya tidak akan pernah menggugat, apalagi sampai melakukan tindakan yang dapat mengancam keselamatan negara. Akan tetapi, komitmen itu sering disalahartikan, termasuk oleh kalangan penyelenggara negara dengan menganggap NU sebagai "anak baik" yang kurang diperhitungkan. Hal itu terbukti dari sedikitnya perhatian penyelenggara negara terhadap NU. "Apa perlu NU menjadi 'anak nakal' baru diperhatikan," katanya. Dukungan dan loyatitas mutlak NU itu hanya ditujukan kepada eksistensi negara, bukan terkait penyelenggaraan pemerintahan., Jika menyangkut pemerintah, NU akan bersifat amar ma'ruf nahi munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran) atau bersikap kritis terhadap segala kebijakan yang dianggap tidak sesuai atau kurang bermanfaat bagi masyarakat.
Sumber : Topik Malam ANTV
Rabu, 6 Januari 2010
2. Setelah kalian selesai menyimak berita tersebut, catatlah isi berita tersebut dengan menggunakan unsur 5W + 1 H !
3. Sampaikan secara lisan isi berita tersebut secara bergiliran !
- Berisi tentang apa berita tersebut ?
Jawaban :
Siswa A : Ungkapan Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi mengenai dukungan NU terhadap negara mutlak.
Siswa B : Komitmen NU terhadap negara mutlak.
Siswa C : Dukungan NU terhadap negara mutlak.
Simpulan : Dukungan NU terhadap negara mutlak.
- Siapa yang diberitakan dalam peristiwa tersebut ?
Jawaban :
Ketua Umum PBNU KH. Hasyim Muzadi
- Kapan terjadinya peristiwa tersebut ?
Jawaban :
Peristiwa tersebut terjadi pada saat peresmian kantor Pengurus Wilayah (PW) NU pada hari Rabu tanggal 6 Januari 2010.
- Dimana terjadinya peristiwa tersebut ?
Jawaban :
Peristiwa tersebut terjadi di Medan , Sumatra Utara.
- Mengapa peristiwa tersebut terjadi ?
Jawaban :
Karena dukungan dan loyalitas mutlak NU itu hanya ditujukan kepada eksistensi negara, bukan terkait penyelenggaraan pemerintahan.
4. Ungkapan tanggapan kalian masing-masing terhadap informasi dari berita tersebut !
Contoh jawaban : Pengungkapan dukungan NU terhadap negara mutlak adalah hal yang benar karena dukungan dan loyalitas mutlak NU itu hanya ditujukan kepada eksistensi negara bukan terkait penyelenggaraan pemerintahan.
Untuk Diingat :
Berita dalam bahasa Inggris disebut News, News artinya sebagai informasi tentangperistiwa-peristiwa terbaru (infotainment about recent event), yang mengartikan bahwa News sebagai laporan peristiwa terkini dan informasi yang tidak diketahui sebelumnya. Intinya, makna harfiah berita (News) adalah informasi atau laporan peristiwa yang baru terjadi yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar, sehingga dapat menarik minat yang mempunyai makna bagi pembaca (Willard C Blayers).
Unsur-unsur yang harus dipenuhi oleh sebuah peristiwa sehingga layak dijadikan berita.
1. Aktual : Peristiwa terbaru, terkini atau hangat (up to date) atau baru saja terjadi (recent events)
2. Faktual : Faktualnya (fact) benar-benar terjadi, bukan fiksi. Yang menguraikan 5W + 1 H
3. Penting : Peristiwa yang melibatkan orang penting selalu menarik perhatian orang
4. Menarik : Memunculkan rasa ingin tahu dan minat membaca.
Latihan
Kerjakan latihan berikut !
1. Simaklah rekaman berita ini !
MUI Mengharamkan Patung Sultan Banten
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tanggerang Selatan, provinsi Banten, mengharamkan pembangunan patung Sultan Banten, Maulana Hasanudin, di Bundaran Pamulang, karena khawatir dijadikan tempat pemujaan.
Ketua MUI Kota Tanggerang Selatan KH. Saidi menyatakan, hasil musyawarah MUI dan pemerintah daerah setempat menetapkan pembangunan patung Sultan Maulana Hasanuddin tidak sesuai dengan hadis.
“MUI Tanggerang Selatan mengharamkan pembangunan patung sultan Sultan Maulana Hasanuddin Banten di Bundaran Pamulang,” Kata Saidi di Tanggerang Minggu (20/12).
MUI menilai, jika patung Sultan Hasanuddin dibangun, Bundaran Pamulang akan dijadikan tempat berhala bagi mereka yang memuja Sultan Banten itu.
Saidi menegaskan, jika patung itu berdiri sebagai tokoh sejarah untuk pendidikan akan disalahgunakan oleh masyarakat.
“Jika tidak dipantau akan lebih banyak kerusakannya, seperti persembahan berhala dan kemaslahatan,” kata Saidi.
Dia mengatakna, anggaran besar yang digunakan untuk pembangunan patung Sultan Maulana Hasanuddin yang bekerjasama dengan pihak swasta lebih baik dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
Ia menjelaskan, sebaiknya di Bundaran Pamulang dibangun monumen tiang mesjid Banten atau Asmaul Husna ketimbang patung Sultan Maulana Hasanuddin.
“Bila perlu membangun logo Kota Tanggerang selatan di Bundaran Pamulang agar tidak terjadi salah persepsi,” katanya tegas.
MUI Kota Tanggerang Selatan, kata Saidi, telah mengajukan sejumlah usulan kepada Pemkot Tanggerang Selatan agar mengganti patung itu.
Sementara itu, Pejabat Walikota Tanggerang Selatan M. Sholeh menjelaskan, masukan dari MUI Kota Tanggerang Selatan terkait dengan penolakan pembangunan patung tersebut akan dibahas lebih lanjut dengan perangkat daerah setempat.
“Untuk memutuskan seperti apa nantinya, kita akan melakukan pembahasan lebih dalam” Ujar Wali Kota.
Sumber : Kilas Global, Minggu 20 Desember 2009
2. Setelah menyimak berita tersebut, catatlah isi berita tersebut !
3. Sampaikan secara tulisan isi berita tersebut !
4. Ungkapkan tanggapan kalian masing-masing terhadap informasi dari berita tersebut dalam bentuk tulisan !
SASTRA
peuting keur meujeuhna sepi jempling, awak karasa nahnay, ngan hanjakal dipaksa sangkan mata peureum ge angger teu bisa, asa aya lampah nu can kalaksanakaeun peuting ayeuna, aya nu dipikiran ngan teuing naeun
Senin, 10 Mei 2010
PUISIKU
Bunga Putihku
Tiada cuma senyuman ini
Nan hendak kubawa ke pangkuanmu,
Ada seribu degup jantung
Yang menggema,
Yang bergetar
dan hanya
Dapat kurasakan saat bersamamu,
User Manual Setting WAP
Untuk menggunakan aplikasi gprs pada hp ini terlebih dahulu kartu sim card anda harus aktif gprsnya (Sudah terdaftar di operator) dan baru setting layanan jaringan WAP sesuai dengan kartu yg anda gunakan.
Caranya:
Masuk ke Menu-layanan(Service)-WAP Browser-Pengaturan(Setting)-Pengaturan jaringan(network setting) =
Contoh :XL
1.Home page
2.Gateway ( IP address )
202.152.240.50
3.Port
8080
4.Account
Xl
“Untuk mengisi Account klik Account lalu pilih “GPRS” dan pilih Account yg akan digunakan misalnya anda menggunakan’ XL’ maka yg anda pilih’ XL’
Berikut daftar
WAP/GPRS Setting Parameter
Profile Name | Home page | Data Account | User Name | Password | IP address | port | network code |
Telkomsel WAP | Telkomsel | wap | wap123 | 10,1,89,130 | 8000 | 51010 | |
INDOSAT WAP | indosat | indosat | indosat | 10,19,19,19 | 8080 | 51001 | |
XL WAP | XL | xlgprs | proxl | 202,152,240,50 | 8080 | 51011 | |
three WAP | three | 3gprs | 3gprs | 10,4,0,10 | 8080 | 51089 | |
AXISwap | http://wap.axisworld.co.id | AXIS | axis | 123456 | 10.8.3.8 | 8080 |
Untuk memasukan dan menyimpan alamat url/website ( http:// ) anda bisa simpan di bookmark caranya : Masuk, Menu-layanan(Services)-WAP Browser-Bookmark-Option-new:
Contoh:
Name:
Yahoo
URL:
klik ‘Done’ lalu klik ‘yes’
Sabtu, 08 Mei 2010
PUISI
NYALA RINDU
Menyala rindu di kalbu
Dalam panjatan sejuta asa
Dalam panjatan sejuta harapan
nan tiada jua jawaban..
Pada desir angin
menikam sunyi
sesepi buluh-buluh asa
Di dada
Dramatisasi Puisi
Dalam Kamus lstilah Sastra (1986) suntingan Panuti Sudjiman disebutkan
bahwa dramatisasi sepadan dengan istilah "dramaan". Batasan kedua istilah
tersebut adalah pengalihan karya sastra, baik puisi, cerpen, dan lainnya
menjadi drama. Dengan demikian, dramatisasi puisi dapat berarti
"mendramakan puisi". Dalam hal ini, puisi mesti tunduk pada kaidah-kaidah
drama. Misalnya, apabila dalam konvensi drama terdapat kramagung/teks
samping/petunjuk pengarang dan wawancang/dialog/ cakapan, maka dalam
dramatisasi puisi pun demikian. Pendeknya, jika kita akan menampilkan
dramatisasi puisi di atas pentas, syarat utama yang harus kita lakukan adalah
memahami terlebih dahulu konvensi drama pentas sehingga kita mesti
menguasai penataan pentas (skeneri), blocking dan acting yang benar.
Dramatisasi puisi memang mesti bertolak dari puisi. Akan tetapi, agar puisi itu
sesuai dengan kaidah pemanggungan, maka seyogianyalah apabila puisi
tersebut ditransformasikan terlebih dahulu ke dalam drama.
Dalam Kamus lstilah Sastra (1986) suntingan Panuti Sudjiman disebutkan
bahwa dramatisasi sepadan dengan istilah "dramaan". Batasan kedua istilah
tersebut adalah pengalihan karya sastra, baik puisi, cerpen, dan lainnya
menjadi drama. Dengan demikian, dramatisasi puisi dapat berarti
"mendramakan puisi". Dalam hal ini, puisi mesti tunduk pada kaidah-kaidah
drama. Misalnya, apabila dalam konvensi drama terdapat kramagung/teks
samping/petunjuk pengarang dan wawancang/dialog/ cakapan, maka dalam
dramatisasi puisi pun demikian. Pendeknya, jika kita akan menampilkan
dramatisasi puisi di atas pentas, syarat utama yang harus kita lakukan adalah
memahami terlebih dahulu konvensi drama pentas sehingga kita mesti
menguasai penataan pentas (skeneri), blocking dan acting yang benar.
Dramatisasi puisi memang mesti bertolak dari puisi. Akan tetapi, agar puisi itu
sesuai dengan kaidah pemanggungan, maka seyogianyalah apabila puisi
tersebut ditransformasikan terlebih dahulu ke dalam drama.
Sastra
Aliran Sastra Indonesia
C. Aliran Sastra
Kata mazhab atau aliran berasal dari kata stroming (bahasa Belanda) yang
mulai muncul di Indonesia pada zaman Pujangga Baru. Kata itu bermakna
keyakinan yang dianut golongan-golongan pengarang yang sepaham,
ditimbulkan karena menentang paham-paham lama (Hadimadja,1972:9). Dalam
bahasa Inggris, terdapat dua kata yang maknanya sangat berkaitan dengan
aliran, yaitu periods, age, school, generation dan movements.
Aliran sastra pada dasarnya berupaya menggambarkan prinsip (pandangan
hidup, politik, dll) yang dianut sastrawan dalam menghasilkan karya sastra.
Kesastraan – KKG 9
Dengan kata lain, aliran sangat erat hubungannya dengan sikap/jiwa pengarang
dan objek yang dikemukakan dalam karangannya.
Pada prinsipnya, aliran sastra dibedakan menjadi dua bagian besar, yakni (1)
idealisme, dan (2) materialisme. Idealisme adalah aliran romantik yang
bertolak dari cita-cita yang dianut oleh penulisnya. Menurut aliran ini, segala
sesuatu yang terlihat di alam ini hanyalah merupakan bayangan dari bayangan
abadi yang tidak terduga oleh pikiran manusia. Aliran idealisme ini dapat dibagi
menjadi (a) romantisisme, (b) simbolik, (c) mistisisme, dan (d) surealisme.
Romantisisme adalah aliran karya sastra yang sangat mengutamakan
perasaan, sehingga objek yang dikemukakan tidak lagi asli, tetapi telah
bertambah dengan unsur perasaan si pengarang. Aliran ini dicirikan oleh minat
pada alam dan cara hidup yang sederhana, minat pada pemandangan alam,
perhatian pada kepercayaan asli, penekanan pada kespontanan dalam pikiran,
tindakan, serta pengungkapan pikiran. Pengikut aliran ini menganggap
imajinasi lebih penting daripada aturan formal dan fakta. Aliran ini kadangkadang
berpadu dengan aliran idealisme dan realisme sehingga timbul aliran
romantik idealisme, dan romantik realisme.
Romantik idealisme adalah aliran kesusastraan yang mengutamakan perasaan
yang melambung tinggi ke dalam fantasi dan cita-cita. Hasil sastra Angkatan .
Pujangga Baru umumnya termasuk aliran ini. Sementara romantik realisme
mengutamakan perasaan yang bertolak dari kenyataan (contoh: puisi-puisi
Chairil Anwar dan Asrul Sani).
Simbolik adalah aliran yang muncul sebagai reaksi atas realisme dan
naturalisme. Pengarang berupaya menampilkan pengalaman batin secara
simbolik. Dunia yang secara indrawi dapat kita cerap menunjukkan suatu dunia
rohani yang tersembunyi di belakang dunia indrawi. Aliran ini selalu
menggunakan simbol atau perlambang hewan atau tumbuhan sebagai pelaku
dalam cerita. Contoh karya sastra yang beraliran ini misalnya Tinjaulah Dunia
Sana, Dengarlah Keluhan Pohon Mangga karya Maria Amin dan Kisah Negara
Kambing karya Alex Leo.
Mistisisme adalah aliran kesusastraan yang bersifat melukiskan hubungan
manusia dengan Tuhan. Mistisisme selalu memaparkan keharuan dan
kekaguman si penulis terhadap keagungan Maha Pencipta. Contoh karya
sastra yang beraliran ini adalah sebagaian besar karya Amir Hamzah, Bahrum
Rangkuti, dan J.E.Tatengkeng.
Surealisme adalah aliran karya sastra yang melukiskan berbagai objek dan
tanggapan secara serentak. Karya sastra bercorak surealis umumnya susah
dipahami karena gaya pengucapannya yang melompat-lompat dan kadang
terasa agak kacau. Contoh karya sastra aliran ini misalnya Radio Masyarakat
karya Rosihan Anwar, Merahnya Merah karya Iwan Simatupang, dan Tumbang
karya Trisno Sumardjo.
Kesastraan – KKG 10
Materialisme berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang bersifat kenyataan
dapat diselidiki dengan akal manusia. Dalam kesusastraan, aliran ini dapat
dibedakan atasrealisme dan naturalisme.
Realisme adalah aliran karya sastra yang berusaha menggambarkan/
memaparkan/ menceritakan sesuatu sebagaimana kenyataannya. Aliran ini
umumnya lebih objektif memandang segala sesuatu (tanpa mengikutsertakan
perasaan). Sebagaimana kita tahu, Plato dalam teori mimetiknya pernah
menyatakan bahwa sastra adalah tiruan kenyataan/ realitas. Berangkat dari
inilah kemudian berkembang aliran-aliran, seperti: naturalisme, dan
determinisme.
Realisme sosialis adalah aliran karya sastra secara realis yang digunakan
pengarang untuk mencapai cita-cita perjuangan sosialis.
Naturalisme adalah aliran karya sastra yang ingin menggambarkan realitas
secara jujur bahkan cenderung berlebihan dan terkesan jorok. Aliran ini
berkembang dari realisme. Ada tiga paham yang berkembang dari aliran
realisme (1) saintisme (hanya sains yang dapat menghasilkan pengetahuan
yang benar), (2) positivisme ( menolak metafisika, hanya pancaindra kita
berpijak pada kenyataan), dan (3) determinisme (segala sesuatu sudah
ditentukan oleh sebab musabab tertentu).
Impresionisme adalah aliran kesusastraan yang memusatkan perhatian pada
apa yang terjadi dalam batin tokoh utama. Impresionisme lebih mengutamakan
pemberian kesan/pengaruh kepada perasaan daripada kenyataan atau
keadaan yang sebenarnya. Beberapa pengarang Pujangga Baru
memperlihatkan impresionisme dalam beberapa karyanya.
C. Aliran Sastra
Kata mazhab atau aliran berasal dari kata stroming (bahasa Belanda) yang
mulai muncul di Indonesia pada zaman Pujangga Baru. Kata itu bermakna
keyakinan yang dianut golongan-golongan pengarang yang sepaham,
ditimbulkan karena menentang paham-paham lama (Hadimadja,1972:9). Dalam
bahasa Inggris, terdapat dua kata yang maknanya sangat berkaitan dengan
aliran, yaitu periods, age, school, generation dan movements.
Aliran sastra pada dasarnya berupaya menggambarkan prinsip (pandangan
hidup, politik, dll) yang dianut sastrawan dalam menghasilkan karya sastra.
Kesastraan – KKG 9
Dengan kata lain, aliran sangat erat hubungannya dengan sikap/jiwa pengarang
dan objek yang dikemukakan dalam karangannya.
Pada prinsipnya, aliran sastra dibedakan menjadi dua bagian besar, yakni (1)
idealisme, dan (2) materialisme. Idealisme adalah aliran romantik yang
bertolak dari cita-cita yang dianut oleh penulisnya. Menurut aliran ini, segala
sesuatu yang terlihat di alam ini hanyalah merupakan bayangan dari bayangan
abadi yang tidak terduga oleh pikiran manusia. Aliran idealisme ini dapat dibagi
menjadi (a) romantisisme, (b) simbolik, (c) mistisisme, dan (d) surealisme.
Romantisisme adalah aliran karya sastra yang sangat mengutamakan
perasaan, sehingga objek yang dikemukakan tidak lagi asli, tetapi telah
bertambah dengan unsur perasaan si pengarang. Aliran ini dicirikan oleh minat
pada alam dan cara hidup yang sederhana, minat pada pemandangan alam,
perhatian pada kepercayaan asli, penekanan pada kespontanan dalam pikiran,
tindakan, serta pengungkapan pikiran. Pengikut aliran ini menganggap
imajinasi lebih penting daripada aturan formal dan fakta. Aliran ini kadangkadang
berpadu dengan aliran idealisme dan realisme sehingga timbul aliran
romantik idealisme, dan romantik realisme.
Romantik idealisme adalah aliran kesusastraan yang mengutamakan perasaan
yang melambung tinggi ke dalam fantasi dan cita-cita. Hasil sastra Angkatan .
Pujangga Baru umumnya termasuk aliran ini. Sementara romantik realisme
mengutamakan perasaan yang bertolak dari kenyataan (contoh: puisi-puisi
Chairil Anwar dan Asrul Sani).
Simbolik adalah aliran yang muncul sebagai reaksi atas realisme dan
naturalisme. Pengarang berupaya menampilkan pengalaman batin secara
simbolik. Dunia yang secara indrawi dapat kita cerap menunjukkan suatu dunia
rohani yang tersembunyi di belakang dunia indrawi. Aliran ini selalu
menggunakan simbol atau perlambang hewan atau tumbuhan sebagai pelaku
dalam cerita. Contoh karya sastra yang beraliran ini misalnya Tinjaulah Dunia
Sana, Dengarlah Keluhan Pohon Mangga karya Maria Amin dan Kisah Negara
Kambing karya Alex Leo.
Mistisisme adalah aliran kesusastraan yang bersifat melukiskan hubungan
manusia dengan Tuhan. Mistisisme selalu memaparkan keharuan dan
kekaguman si penulis terhadap keagungan Maha Pencipta. Contoh karya
sastra yang beraliran ini adalah sebagaian besar karya Amir Hamzah, Bahrum
Rangkuti, dan J.E.Tatengkeng.
Surealisme adalah aliran karya sastra yang melukiskan berbagai objek dan
tanggapan secara serentak. Karya sastra bercorak surealis umumnya susah
dipahami karena gaya pengucapannya yang melompat-lompat dan kadang
terasa agak kacau. Contoh karya sastra aliran ini misalnya Radio Masyarakat
karya Rosihan Anwar, Merahnya Merah karya Iwan Simatupang, dan Tumbang
karya Trisno Sumardjo.
Kesastraan – KKG 10
Materialisme berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang bersifat kenyataan
dapat diselidiki dengan akal manusia. Dalam kesusastraan, aliran ini dapat
dibedakan atasrealisme dan naturalisme.
Realisme adalah aliran karya sastra yang berusaha menggambarkan/
memaparkan/ menceritakan sesuatu sebagaimana kenyataannya. Aliran ini
umumnya lebih objektif memandang segala sesuatu (tanpa mengikutsertakan
perasaan). Sebagaimana kita tahu, Plato dalam teori mimetiknya pernah
menyatakan bahwa sastra adalah tiruan kenyataan/ realitas. Berangkat dari
inilah kemudian berkembang aliran-aliran, seperti: naturalisme, dan
determinisme.
Realisme sosialis adalah aliran karya sastra secara realis yang digunakan
pengarang untuk mencapai cita-cita perjuangan sosialis.
Naturalisme adalah aliran karya sastra yang ingin menggambarkan realitas
secara jujur bahkan cenderung berlebihan dan terkesan jorok. Aliran ini
berkembang dari realisme. Ada tiga paham yang berkembang dari aliran
realisme (1) saintisme (hanya sains yang dapat menghasilkan pengetahuan
yang benar), (2) positivisme ( menolak metafisika, hanya pancaindra kita
berpijak pada kenyataan), dan (3) determinisme (segala sesuatu sudah
ditentukan oleh sebab musabab tertentu).
Impresionisme adalah aliran kesusastraan yang memusatkan perhatian pada
apa yang terjadi dalam batin tokoh utama. Impresionisme lebih mengutamakan
pemberian kesan/pengaruh kepada perasaan daripada kenyataan atau
keadaan yang sebenarnya. Beberapa pengarang Pujangga Baru
memperlihatkan impresionisme dalam beberapa karyanya.
Langganan:
Postingan (Atom)